Detik.sbs, JAKARTA — Indonesia menghadapi persimpangan jalan dalam menjaga momentum ekonomi menuju target Indonesia Emas 2045. Pasar modal mencatatkan rekor transaksi, namun sektor riil masih terbebani oleh biaya tinggi dan penyusutan daya beli kelas menengah.
Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan untuk mengatasi hambatan investasi. Ia menyoroti proses perizinan yang masih memakan waktu hingga 65 hari sebagai beban kompetitif bagi dunia usaha.
Dalam acara IDX Channel Economic Outlook 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jumat (30/1/2026), para pakar merumuskan strategi mesin pertumbuhan baru. Fokus utama adalah menggeser ketergantungan pada komoditas menuju ekonomi berbasis nilai tambah dan digitalisasi.
“Target pertumbuhan ekonomi 8 (delapan) persen adalah visi ambisius. Kita memerlukan terobosan luar biasa karena cara konvensional tidak lagi cukup di tengah ketidakpastian geopolitik global,” ujar Shinta Kamdani.
Tantangan Struktural dan Daya Beli
Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh stabil pada angka 5 (lima) hingga 5,4 (lima koma empat) persen untuk tahun 2026. Namun, angka ini dibayangi oleh data penyusutan kelas menengah sebesar 16,59 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan konsumsi domestik sebagai motor utama PDB.
Chief Economist Bank Mandiri, Andri Asmoro, menjelaskan bahwa biaya logistik dan energi yang lebih mahal dari negara tetangga harus segera diatasi. Produktivitas tenaga kerja juga menjadi titik lemah karena 38 persen siswa sekolah dasar belum mencapai standar kompetensi minimum.
Mismatch antara kebutuhan industri dengan kualitas sumber daya manusia menghambat investasi di sektor manufaktur. Hal ini mengakibatkan sektor informal membengkak hingga menyumbang 60 persen dari total lapangan kerja nasional dengan tingkat pendapatan yang tidak stabil.
Lonjakan Likuiditas Pasar Modal
Berlawanan dengan tekanan di sektor riil, pasar modal Indonesia justru menunjukkan performa impresif. Jumlah investor telah menembus angka 20 juta jiwa dengan rata-rata transaksi harian mencapai Rp33 triliun pada awal 2026.
Irman Cahyadi, CIO BNI Asset Management, melihat ini sebagai peluang besar untuk pendanaan industri. Stabilitas makroekonomi dan inflasi yang terjaga menjadi magnet bagi investor domestik maupun asing untuk tetap menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.
Asosiasi Emiten Indonesia melalui Direktur Eksekutif Gilman Pradana mencatat peningkatan aktivitas emisi saham menjelang 2025. Perusahaan tercatat mulai melakukan konsolidasi dan ekspansi seiring dengan membaiknya sistem perizinan Online Single Submission (OSS).
Strategi Portofolio dan Inovasi 2026
Kolaborasi antara IDX Channel dan ILUNI MMUI (Ikatan Alumni Magister Manajemen Universitas Indonesia) melalui forum ini bertujuan menciptakan ekosistem investasi yang lebih inklusif. Salah satu langkah strategis adalah penyiapan papan akselerasi bagi perusahaan startup untuk mendapatkan akses modal lebih mudah.
Pengembangan teknologi dan adopsi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Digitalisasi proses bisnis diharapkan mampu memangkas biaya operasional dan meningkatkan transparansi yang pada akhirnya menarik minat investor berkualitas.
Seminar ini menyimpulkan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi 2026 terletak pada tiga pilar utama. Pertama, penguatan daya beli melalui penciptaan lapangan kerja formal. Kedua, efisiensi biaya logistik dan birokrasi. Ketiga, optimalisasi pasar modal sebagai sumber pendanaan produktif bagi sektor riil.
Seminar ekonomi ini menyoroti paradoks pertumbuhan Indonesia menuju 2045. Di satu sisi, pasar modal menunjukkan likuiditas luar biasa dengan lonjakan transaksi harian mencapai Rp33 triliun. Di sisi lain, sektor riil menghadapi tantangan struktural berupa penurunan daya beli kelas menengah dan dominasi pekerja informal. Strategi portofolio 2026 harus beralih dari cara konvensional menuju inovasi digital dan penguatan sektor manufaktur padat karya untuk menyerap tenaga kerja. Sinergi antara kebijakan fiskal, efisiensi birokrasi, dan adopsi teknologi menjadi syarat mutlak untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 5 (lima) persen.

