Jumat, Maret 27, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Kakek 80 Tahun dan Cucu Yatim Piatu di Cidempet Tinggal di Reruntuhan, Kuwu Hanya Bilang “Sabar”

Indramayu,Detik.sbs – Jeritan pilu datang dari Blok Kebon Pring, RT 01 RW 01, Desa Cidempet, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu. Tamas (80), seorang kakek renta yang tak lagi memiliki pekerjaan tetap, kini harus bertahan hidup di tengah puing-puing rumahnya yang roboh diterpa angin.

Lebih memilukan lagi, Tamas tidak sendiri. Ia tinggal bersama cucunya, Iqbal Magribi (14), seorang pelajar SMP yang merupakan yatim piatu dan mengalami disabilitas fisik. Dua generasi yang sama-sama lemah secara ekonomi dan fisik itu kini kehilangan satu-satunya tempat berlindung.

Selama ini, kehidupan mereka hanya bergantung pada belas kasih tetangga dan saudara. Rumah yang mereka tempati diketahui sudah sangat tua dan rapuh. Warga menyebut kondisi tersebut sudah lama diajukan agar mendapat bantuan perbaikan. Namun bertahun-tahun berlalu, tak ada tindakan nyata.

“Saya cuma disuruh sabar,” ucap Tamas dengan suara bergetar,
menirukan jawaban Kuwu Cidempet, Mahfidin, saat diminta agar rumahnya dibangun kembali. Saat ditemui forum Geplak Sabtu/14/02/2026.

Kini, yang tersisa hanyalah kayu lapuk dan genting pecah berserakan di tanah. Di tengah kondisi itu, seorang kakek 80 tahun dan cucu yatim piatu penyandang disabilitas harus menghadapi hari tanpa kepastian.

Saat dikonfirmasi oleh GEPLAK (Gerakan Pers Lurus, Akurat dan Kritis), Kuwu Mahfidin menyampaikan bahwa dirinya tengah menghadiri kegiatan KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam). Namun sejumlah warga setempat justru menilai sang kuwu terkesan menghindar saat persoalan warganya mencuat ke publik.

Jika benar pengajuan bantuan telah dilakukan sejak lama, mengapa tak kunjung terealisasi? Di mana fungsi pendataan warga miskin ekstrem? Di mana prioritas bagi lansia dan anak yatim piatu penyandang disabilitas?
Permintaan untuk “bersabar” mungkin terdengar sederhana.

Namun bagi Tamas dan Iqbal, sabar berarti tidur tanpa atap, bertahan tanpa kepastian, dan menunggu tanpa kejelasan.

Kuwu  bukan sekadar jabatan administratif, melainkan amanah untuk melindungi warganya. Ketika warga paling rentan dibiarkan hidup di reruntuhan, publik berhak bertanya: ke mana keberpihakan itu?

Kini masyarakat menunggu bukan sekadar jawaban, tetapi tindakan nyata. Sebab kemiskinan dan penderitaan tidak bisa ditunda dengan satu kata: sabar.
( Maman )

Popular Articles