Indramayu, Detik.sbs – Kepindahan mantan Bupati Indramayu, Nina Agustina, ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan hanya memicu perbincangan, tetapi juga gelombang penolakan yang kian terasa di ruang publik.
Alih-alih menjadi efek kejut politik yang memperkuat posisi PSI di daerah, langkah tersebut justru memantik kritik tajam di media sosial.
Lini masa warganet Indramayu dipenuhi sindiran, keraguan, hingga pernyataan terbuka bahwa partai berlogo gajah itu belum benar-benar membumi di Kota Mangga.
Sejumlah komentar menyebut, perpindahan figur tidak otomatis menghapus persepsi lama publik terhadap partai. “Jadi termul, Berlanjut menjadi temul,” tulis salah satu akun dalam kolom komentar media lokal.
Dinamika ini juga dinilai mencerminkan sikap kritis masyarakat terhadap manuver elite politik. Publik disebut semakin rasional dalam memisahkan antara popularitas individu dan kekuatan institusi partai.
Ketua GEPLAK (Gerakan Pers Lurus, Akurat, dan Kritis), Ali Zaidan, berpendapat bahwa efek elektoral seorang figur tidak selalu linier dengan penerimaan partai.
“Figur bisa menjadi magnet, tetapi tanpa kepercayaan dan kerja konkret di akar rumput, dampaknya bisa terbatas,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, jajaran Partai Solidaritas Indonesia di tingkat daerah belum memberikan pernyataan resmi.
( Maman )

