Indramayu, Detik sbs – Kirab Tunggul Pataka bukan sekadar arak-arakan yang setiap tahun menghiasi jalanan Kabupaten Indramayu. Di balik deretan becak, barisan Paskibra, marching band, panji-panji hingga benda pusaka, tersimpan jejak panjang perjalanan sejarah dan identitas daerah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setiap langkah dalam kirab seolah mengajak masyarakat kembali menengok masa lalu, mengingat bagaimana Indramayu tumbuh dan berkembang hingga memasuki usia ke-499 tahun. Tradisi yang telah berlangsung sejak 1977 itu menjadi salah satu cara untuk menjaga agar sejarah tidak sekadar menjadi catatan dalam buku, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat.
Kirab Tunggul Pataka mulai dilaksanakan pada 1977, setelah tanggal 7 Oktober 1527 ditetapkan sebagai Hari Jadi Indramayu melalui Sidang Pleno DPRD pada 24 Januari 1977.
Pada awalnya, kirab dilakukan dengan berjalan kaki dan rutenya pun berbeda. Prosesi dimulai dari Kecamatan Sindang yang menjadi salah satu pusat pemerintahan awal Indramayu, kemudian bergerak menuju Pendopo hingga berakhir di Gedung Dewan.
Setelah gedung DPRD berpindah ke jalan Jenderal Sudirman sekira 1980-an, rutenya ikut berubah seperti yang dikenal sekarang.
Lalu, apa sebenarnya arti Tunggul Pataka?. Tunggul merupakan tetenger atau panji yang memuat logo Kabupaten Indramayu, sedangkan Pataka merujuk pada panji Gagak Winangsih yang dikenal sebagai lambang awal daerah Indramayu.
Karena itu, kirab ini bukan hanya memindahkan sebuah panji dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi simbol bahwa sebuah daerah sedang mengingat kembali perjalanan sejarahnya.
Benda-benda pusaka yang ikut dikirab juga menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Senjata peninggalan leluhur, termasuk tombak, diperlihatkan kepada masyarakat sebagai pengingat bahwa Indramayu memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi daerah seperti sekarang.
Menariknya lagi, sejak 2002, kirab mulai menggunakan becak sebagai kendaraan para pejabat.
Bukan tanpa alasan. Pada masa itu, tukang becak masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indramayu. Pelibatan mereka menjadi bentuk kepedulian pemerintah sekaligus upaya mempertahankan keberadaan becak sebagai kendaraan tradisional.
Maka, ketika hari ini kita melihat Kirab Tunggul Pataka melintas di jalan-jalan Indramayu, yang sebenarnya sedang berjalan bukan hanya sebuah rombongan.
Ada sejarah yang sedang diceritakan, ada pusaka yang sedang diperkenalkan dan ada identitas daerah yang sedang diwariskan.
( Maman ).

