Oleh : Anto Kusumayuda dan Aam Abdul Salam (Ketum dan Sekjen PPJNA 98)*
DETIK.SBS || Di penghujung Ramadhan, atmosfer batin umat beriman mulai merapat pada satu titik: Lailatul Qadar. Secara filosofis, malam ini bukan sekadar hitungan waktu, melainkan momen “interupsi ilahi” di mana langit menyentuh bumi. Ia adalah simbol pencerahan (enlightenment) yang melampaui logika materi, sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Namun, di balik kekhusyukan i’tikaf, Indonesia hari ini sedang berada dalam pusaran ujian yang nyata. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan realitas geopolitik.
Filosofi Perlawanan dan Penjagaan
Dalam kacamata filsafat eksistensialisme religius, menjaga kedaulatan negara adalah bagian dari menjaga amanah Tuhan. Saat ini, kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah diuji oleh berbagai dinamika global. Isu mengenai intervensi aktor-aktor internasional dan kaki tangan kepentingan asing yang mencoba menggoyang stabilitas nasional bukan sekadar isapan jempol, melainkan tantangan terhadap kedaulatan.
Upaya sabotase ekonomi dan aksi-aksi yang memicu instabilitas adalah bentuk “kegelapan” yang harus dilawan dengan “cahaya” keteguhan. Di malam-malam ganjil ini, doa bukan sekadar pelarian, melainkan senjata spiritual (As-shilahu al-mu’min).
Mengetuk Pintu Langit untuk Pemimpin dan Bangsa
Di sela sujud-sujud panjang, mari kita selipkan permohonan tulus:
Kekuatan bagi Pemimpin : Memohon agar Presiden Prabowo diberikan ketajaman mata batin dan ketegasan sikap untuk menghadapi agen-agen asing yang berniat memecah belah bangsa. Semoga Allah memberikan perlindungan dari segala makar dan tipu daya yang merugikan rakyat.
Ketahanan Ekonomi: Berdoa agar Indonesia dijauhkan dari sabotase ekonomi dan diberikan kemandirian di tengah guncangan pasar global.
Perlindungan dari Konflik Global: Di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat-Israel vs Iran, kita memohon agar Indonesia tidak terseret dalam arus kehancuran. Semoga Allah menjauhkan negeri ini dari dampak buruk Perang Dunia III dan krisis energi maupun pangan yang menghantui dunia.
Menjadi Benteng Spiritual
Lailatul Qadar mengajarkan kita tentang Istiqamah. Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada militer atau otot ekonominya, tetapi pada kohesi sosial dan spiritualitas rakyatnya. Dengan mengetuk pintu langit, kita sedang membangun benteng gaib bagi Ibu Pertiwi.
Semoga di malam yang mulia ini, Allah SWT menurunkan kedamaian (Sakinah) untuk Indonesia, memberikan keselamatan bagi seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, dan menguatkan para pemimpin kita untuk tetap tegak berdiri di atas kepentingan nasional, demi kejayaan bangsa yang berdaulat.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
“Ya Allah, di malam yang mulia ini, kami memohon perlindungan-Mu untuk negeri kami, Indonesia.
Ya Qawiyyu Ya Aziz (Wahai Yang Maha Kuat, Wahai Yang Maha Perkasa),
Berikanlah kekuatan, kesehatan, dan ketajaman mata hati kepada pemimpin kami, Bapak Prabowo Subianto. Lindungilah beliau dari segala makar dan tipu daya agen-agen asing, kaki tangan globalis, serta mereka yang hendak menyabotase ekonomi dan stabilitas bangsa kami. Jadikanlah beliau benteng yang kokoh bagi kedaulatan NKRI.
Ya Khairul Maakirin (Wahai Sebaik-baik Pembalas Tipu Daya),
Hancurkanlah rencana jahat siapapun yang ingin memecah belah rakyat kami. Jadikanlah setiap sabotase mereka berbalik menjadi kebaikan bagi kemandirian bangsa kami.
Ya Salam (Wahai Yang Maha Memberi Kedamaian),
Bentengilah tanah air kami dan seluruh rakyat Indonesia dari dampak peperangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Jauhkanlah kami dari malapetaka Perang Dunia III dan krisis pangan serta energi yang melanda dunia. Jadikanlah Indonesia sebagai negeri yang tenang, aman, dan makmur di bawah naungan ampunan-Mu.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar. Walhamdulillahirabbil ‘alamin.”
EDITOR : Fikrie M

