PROGRAM “BANTU BUANG” KARANG TARUNA  SOLUSI ATAU TAMBAL SULAM MASALAH SAMPAH?

0
4

PROGRAM “BANTU BUANG” KARANG TARUNA  SOLUSI ATAU TAMBAL SULAM MASALAH SAMPAH?

Detik.SBS – Lombok Barat

Geliat Karang Taruna tunas harapan muda  Desa Jembatan Kembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, dalam memerangi persoalan sampah melalui program bertajuk “Bantu Buang” mulai menarik perhatian publik. Program ini digagas sebagai respons atas minimnya layanan pengangkutan sampah dan meningkatnya keluhan warga terkait lingkungan yang kian tercemar.

 

Secara konsep, “Bantu Buang” merupakan layanan swadaya yang dijalankan pemuda dengan membantu warga membuang sampah ke titik pembuangan tertentu. Dengan sistem partisipatif, warga cukup mengumpulkan sampah dari rumah, lalu petugas dari Karang Taruna akan mengambil dan membuangnya secara berkala.

Namun, di balik niat baik tersebut, muncul sejumlah pertanyaan di lapangan menemukan bahwa program ini lahir bukan semata inovasi, melainkan sebagai bentuk “tutup celah” atas belum optimalnya sistem pengelolaan sampah desa.

Sejumlah warga mengaku terbantu, tetapi juga mempertanyakan keberlanjutan program. “Selama ini kami memang kesulitan buang sampah. Ada program ini sangat membantu, tapi kalau tidak ada dukungan pemerintah, apakah bisa jalan terus?” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Di sisi lain, Ketua Karang Taruna tunas harapan muda desa jembatan kembar  L. Ismail. S.kom menegaskan bahwa mereka tidak bermaksud mengambil alih peran pemerintah. Justru, program ini menjadi bentuk kritik sosial atas lemahnya sistem yang ada. “Kami bergerak karena kondisi mendesak. Kalau sistem desa berjalan maksimal, mungkin program seperti ini tidak perlu ada,” ungkapnya

Selain itu, keterbatasan armada dan biaya operasional menjadi kendala utama. Program “Bantu Buang” masih mengandalkan iuran sukarela dan swadaya dari masyarakat tanpa dukungan anggaran yang jelas dari pemerintah desa.

Pengamat lingkungan lokal menilai, langkah Karang Taruna patut diapresiasi, tetapi tidak boleh dijadikan pembenaran bagi pemerintah untuk lepas tangan. “Ini alarm keras bahwa sistem pengelolaan sampah di tingkat desa belum berjalan optimal. Jangan sampai beban ini sepenuhnya dipikul oleh pemuda,” ujarnya.

Kondisi ini membuka fakta bahwa persoalan sampah di Desa Jembatan Kembar bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga menyangkut tata kelola dan komitmen bersama. Program “Bantu Buang” bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi tanpa perbaikan sistem yang menyeluruh, upaya ini berisiko menjadi sekadar tambal sulam.

Ketua Karang taruna desa jembatan kembar L.Ismail s.kom pun berharap ada langkah konkret dari pemerintah desa dan pihak terkait untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan lingkungan serta masyarakat luas