Indramayu, Detik sbs – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya populer, sebuah sanggar seni sederhana di Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, terus bertahan menjadi penjaga warisan budaya leluhur. Adalah Sanggar Kesenian Asem Gede, yang selama lebih dari 17 tahun konsisten membina generasi muda agar tetap mencintai dan melestarikan seni tradisional khas Indramayu.
Didirikan oleh Dede Jaelani Solichin pada tahun 2009, Sanggar Kesenian Asem Gede bukan sekadar tempat latihan seni. Sanggar ini menjadi ruang belajar, berkarya, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah kepada anak-anak dan generasi muda.
Berbagai pelatihan seni rutin digelar di sanggar tersebut, mulai dari seni rupa, tari topeng, ronggeng, trebang randu kentir hingga pelatihan gamelan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indramayu.
Dede Jaelani Solichin menuturkan bahwa niat awal mendirikan sanggar adalah memberikan wadah bagi anak-anak yang memiliki minat dan bakat di bidang kesenian.
“Sanggar ini saya dirikan untuk anak-anak yang ingin belajar kesenian, baik seni rupa maupun seni tari. Khusus tari, kami fokus pada kesenian khas Indramayu. Di sini tidak ada pelatihan tari jaipong karena kami ingin lebih mengembangkan dan menjaga kesenian daerah yang menjadi identitas Indramayu,” ujar Dede.
Saat di temui di sanggar, Sabtu/20/06/2026.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses pembinaan sejak usia dini agar generasi muda mengenal akar budaya mereka sendiri dan tidak tercerabut dari identitas daerahnya.
Bagi Dede, kesenian bukan hanya soal kemampuan menari atau memainkan alat musik tradisional. Lebih dari itu, seni menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
“Anak-anak yang datang ke sanggar bukan hanya belajar gerakan tari atau memainkan gamelan. Mereka juga belajar tentang sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Selain menjadi pusat pelatihan seni, Sanggar Kesenian Asem Gede juga menyediakan penyewaan kostum tari topeng yang kerap digunakan dalam berbagai pertunjukan budaya, festival seni, hingga acara adat di wilayah Indramayu dan sekitarnya.
Selama lebih dari satu dekade, sanggar ini telah melahirkan banyak generasi muda yang aktif dalam berbagai kegiatan kesenian tradisional. Bahkan tidak sedikit yang kemudian tampil dalam berbagai pentas budaya tingkat daerah maupun luar daerah.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Dede berharap generasi muda tetap memiliki kebanggaan terhadap budaya daerahnya sendiri.
“Harapan saya, anak-anak muda tetap mencintai kesenian tradisional dan ikut melestarikannya. Jangan sampai kesenian khas Indramayu hilang atau kalah oleh perkembangan zaman. Budaya ini adalah warisan yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Semangat yang terus menyala dari Sanggar Kesenian Asem Gede menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak selalu lahir dari gedung megah atau fasilitas mewah. Dari sebuah sanggar sederhana di pelosok desa, upaya menjaga identitas budaya Indramayu terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
Di saat banyak budaya lokal mulai tergerus zaman, Sanggar Asem Gede tetap berdiri tegak sebagai benteng terakhir yang menjaga denyut seni tradisional Indramayu agar tidak hilang ditelan waktu.
( Maman )

