Detik SBS Banyuwangi,
Budaya langka elpiji 3 kg Menjelang Hari Raya berdampak serius pada kehidupan masyarakat Indonesia, terutama rumah tangga miskin dan UMKM yang bergantung pada gas bersubsidi ini.
Kejenuhan masyarakat harus mengantre berjam-jam di pangkalan resmi atau berkeliling mencari stok, sering kali sia-sia, sehingga memasak terganggu dan menimbulkan stres harian.
Hal ini juga dikeluhkan beberapa penjual gorengan dan Nasi Pecel, menyuarakan kelangkaan gas Elpiji Melon (LPG 3 Kg,) sangat meresahkan.
Hasil konfirmasi penjual Nasi Pecel yang berhasil ditemui Awak media NP pada hari Rabu, 18/03/2026, 08:10 di warung Nasi Pecel miliknya (Sebelah pertigaan Pasar Songgon,) : “Sudah beberapa hari ini gas elpiji sulit di dapat di pangkalan, dan kalo ada harganya melambung dari HET (Harga eceran tertinggi,)” tegasnya
Dari Hasil investigasi Awak media NP harga jual Gas LPG 3 Kg pertabung sampai mencapai harga Rp. 25 ribu. padahal HET yang di tetapkan Pertamina Rp. 18.000,- per tabung.
Kerugian Ekonomi UMKM Pelaku usaha kecil seperti warung makan dan pedagang kaki lima menghadapi biaya operasional melonjak karena harga gas melon di pasar gelap hingga Rp 25.000,- sampai Rp. 30.000, melebihi HET Rp18.000.
Beberapa UMKM terpaksa tutup sementara, mengurangi pendapatan dan lapangan kerja.
Akibat Kelangkaan ini memicu inflasi harga pangan lokal karena pedagang menaikkan harga jual, serta ketidakpastian ekonomi bagi keluarga berpenghasilan rendah yang alokasi dana energinya membengkak.
Penyebab utama kelangkaan elpiji 3 kg secara nasional di Indonesia adalah kebijakan pemerintah yang membatasi penjualan gas bersubsidi hanya di pangkalan resmi mulai Februari 2025, serta pengurangan kuota subsidi dari 414 ribu metrik ton di 2024 menjadi 407 ribu metrik ton di 2025.
Kebijakan Larangan Pengecer larangan Kementerian ESDM bagi pengecer menjual elpiji 3 kg menyebabkan antrean panjang di pangkalan, karena masyarakat biasa membeli di warung kini harus ke lokasi resmi.
Hal ini memicu kekacauan distribusi, terutama di daerah padat penduduk seperti Banyuwangi dan sekitarnya.
Faktor Pendukung Disparitas harga dengan elpiji non-subsidi mendorong permintaan berlebih dari kalangan menengah atas, sementara distribusi belum optimal akibat kuota terbatas dan pertumbuhan kebutuhan energi.
Masalah agen seperti penimbunan juga memperparah situasi di tingkat lokal.
Di saat berita ini di tayangkan di kantor Kecamatan Songgon ada operasi pasar Droping elpiji dari Pertamina kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Alokasi di peruntukkan untuk masyarakat wilayah Kecamatan Songgon

