
JAKARTA, 11 Mei 2026 – Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – Institut français d’Indonésie (IFI) menggelar Konferensi Pers & Resepsi Peluncuran Choix Goncourt Indonesia bersama Philippe Claudel (Presiden Académie Goncourt) pada Senin, 11 Mei 2026 di Résidence de France, Jakarta Pusat.
Konferensi pers ini secara resmi memperkenalkan Choix Goncourt Indonesia, turut hadir Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Yang Mulia Fabien Penone, serta resepsi yang menampilkan tokoh-tokoh terkemuka dari dunia sastra Indonesia.
Dalam rangka peluncuran edisi pertama Choix Goncourt Indonesia ini Philippe Claudel — penulis, pembuat film, dan Presiden Académie Goncourt — dan Karina Hocine – editor dan sekretaris jenderal penerbit Prancis ternama Gallimard melakukan kunjungan resmi ke Jakarta pada tanggal 11 dan 12 Mei 2026.
Sebagai bagian dari jaringan internasional Choix Goncourt hadir di lebih dari 50 negara, inisiatif sastra ini mengajak para siswa untuk membaca, berdiskusi, dan memilih karya favorit mereka dari seleksi resmi Prix Goncourt, membawa pembaca muda Indonesia ke dalam dialog global seputar sastra berbahasa Prancis kontemporer.
Prix Goncourt adalah penghargaan sastra utama Prancis yang diberikan oleh Akademi Goncourt kepada penulis profesional, sedangkan Choix Goncourt (seperti Choix Goncourt de l’Indonésie) adalah versi internasional yang dipilih oleh mahasiswa/pemelajar bahasa Prancis di luar negeri, termasuk Indonesia, untuk mempromosikan sastra Prancis. Perbedaan utamanya, sebagai berikut:
• Prix Goncourt (Prancis): Penghargaan paling bergengsi di Prancis yang diberikan sejak 1903 untuk karya prosa terbaik tahun ini, diputuskan oleh juri ahli di Paris.
• Choix Goncourt (Internasional): Bagian dari komite internasional (seperti di Indonesia) di mana mahasiswa membaca dan memilih favorit mereka dari daftar nominasi Prix Goncourt.
• Juri: Juri Prix Goncourt adalah akademisi/penulis sastra, sedangkan juri Choix Goncourt adalah mahasiswa/pelajar.
• Tujuan: Prix Goncourt bertujuan memberi penghargaan tertinggi, sementara Choix Goncourt bertujuan meningkatkan apresiasi dan dialog sastra global di kalangan pembaca muda.
Choix Goncourt de l’Indonésie 2026, misalnya, melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia untuk berdiskusi dan memilih novel terbaik dari seleksi Prix Goncourt.
Melalui acara ini, Indonesia secara resmi mencetak sejarah dalam dunia literasi dengan bergabung ke dalam jaringan internasional Choix Goncourt. Langkah ini menjadikan Indonesia sebagai negara ke-51 yang berpartisipasi dalam ajang penghargaan sastra bergengsi asal Prancis tersebut.
Dalam edisi perdana ini, sebanyak 13 mahasiswa jurusan sastra Prancis dari tujuh universitas di Indonesia terpilih menjadi anggota juri. Mereka bertugas mengulas daftar nominasi resmi dan memilih karya sastra Prancis kontemporer terbaik. Keterlibatan ini menempatkan kaum muda Indonesia tepat di pusat dialog sastra global.

Kehadiran Presiden Akademi Goncourt
Momen bersejarah ini dihadiri langsung oleh Philippe Claudel, penulis ternama sekaligus Presiden Akademi Goncourt. Dalam kunjungannya pada 11-12 Mei di Jakarta, Claudel menekankan pentingnya membangun jembatan budaya melalui literasi.
”Dalam momen di mana menghancurkan terasa lebih mudah daripada membangun, petualangan (budaya) seperti ini adalah pesan indah bagi kaum muda, penulis, dan penerbit,” ujar Claudel dalam sebuah diskusi.
Beliau juga mengungkapkan komitmen pemerintah Prancis untuk mendukung penerjemahan karya-karya penulis kontemporer Indonesia ke dalam bahasa Prancis guna memperkuat jaringan pertukaran ide tersebut.

Menjembatani Sastra dan Sinema.
Selain fokus pada buku, peluncuran ini juga menyoroti ekosistem kreatif yang lebih luas, khususnya hubungan antara sastra dan sinema. Pada diskusi yang digelar di Institut français d’Indonésie (IFI), sejumlah tokoh kreatif Indonesia turut membagikan pengalaman mereka dalam mengadaptasi karya tulis ke layar lebar:
• Ratih Kumala, penulis novel “Gadis Kretek”.
• Laksmi Pamuntjak, penulis “Aruna dan Lidahnya.”
• Reda Gaudiamo & Ryan Adriandhy, yang berkolaborasi dalam adaptasi novel “Na Willa”.
• Hannah Al Rashid, aktris dan pegiat proyek perfilman.
Diskusi ini bertujuan memperkuat ekosistem budaya Indonesia di tengah meningkatnya minat pasar terhadap adaptasi literatur.
Dari Kampus untuk Dunia
Program Choix Goncourt Indonesia merupakan kelanjutan dari inisiatif “Ayo Baca!” yang diluncurkan tahun lalu. Berdasarkan percakapan para mahasiswa, antusiasme terhadap program ini tumbuh melalui sosialisasi intensif di lingkungan kampus dan kerja sama dengan para dosen.
Langkah ini juga sejalan dengan Deklarasi Borobudur yang disepakati oleh Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto pada Mei tahun lalu, yang menjadikan sastra dan kaum muda sebagai pendorong utama dialog bilateral kedua negara.
Sebagai bagian dari kunjungan ini, sejumlah acara publik dan media akan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 11–12 Mei 2026, dengan Agend Acara sebagai berikut:
• Kafe Sastra
Selasa, 12 Mei 2026 – 10.00 WIB di IFI Jakarta – Thamrin. Ini adalah kesempatan sempurna untuk berdiskusi dan mewawancarai secara mendalam bersama Philippe Claudel, Karina Hocine, dan anggota mahasiswa dari juri Choix Goncourt Indonesia mengenai penghargaan sastra ini.
• Diskusi: Sastra & Sinema – Dari Kata ke Sinema
Selasa, 12 Mei 2026 – 17.30 WIB di IFI Jakarta – Thamrin. Diskusi ini akan mempertemukan Philippe Claudel dan beberapa tokoh budaya Indonesia terkemuka, termasuk Ratih Kumala, Reda Gaudiamo, Ryan Adriandhy, Laksmi Pamuntjak, dan Hannah Al Rashid, untuk membahas adaptasi sastra dan penceritaan dalam sastra dan film.

Setelah agenda di Jakarta, Philippe Claudel dijadwalkan akan melanjutkan perjalanan menuju Makassar International Writers Festival (MIWF) pada 14-17 Mei mendatang bersama Karina Hocine dari penerbit Gallimard.

