Indramayu, Detik sbs – Dentuman rebana dan irama khas Genjring Umbul yang dahulu kerap menghidupkan berbagai hajatan rakyat di Indramayu kini mulai jarang terdengar. Di balik semarak pertunjukannya, tersimpan kegelisahan para pelaku seni yang berjuang mempertahankan salah satu warisan budaya daerah agar tidak hilang ditelan zaman.
Grup Genjring Umbul Bintang Wisata, yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan seni masyarakat Indramayu, kini menghadapi tantangan besar. Minimnya regenerasi, terutama untuk pemain akrobat yang menjadi ikon pertunjukan, membuat keberlangsungan kesenian tradisional ini berada di persimpangan jalan.
Pimpinan Grup Genjring Umbul Bintang Wisata, Samari, mengaku semakin sulit menemukan generasi penerus yang mau dan berani menekuni kesenian tersebut. Padahal, menurutnya, banyak anak-anak yang memiliki bakat dan antusiasme untuk belajar.
“Anak-anak sebenarnya banyak yang tertarik dan punya kemampuan. Namun sering kali proses pembinaan terkendala karena kurangnya dukungan dari orang tua. Bahkan ada yang merasa gengsi jika anaknya menjadi pemain akrobat di kesenian Genjring Umbul Bintang Wisata,” tutur Samari. Rabu/10/06/2026.
Bagi Samari, pandangan itu sangat disayangkan. Ia meyakini bahwa keterlibatan anak-anak dalam kesenian tradisional bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga membentuk karakter, melatih kedisiplinan, keberanian, kerja sama, dan rasa percaya diri.
Pemain akrobat dalam Genjring Umbul, lanjutnya, membutuhkan latihan yang serius dan berkesinambungan. Karena itu, regenerasi harus dipersiapkan sejak dini agar warisan budaya yang diwariskan turun-temurun ini tidak berhenti di generasi sekarang.
“Kalau tidak ada penerus, lama-kelamaan kesenian ini bisa hilang. Padahal Genjring Umbul Bintang Wisata adalah bagian dari identitas budaya Indramayu yang harus kita jaga bersama,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Di tengah keterbatasan, Grup Genjring Umbul Bintang Wisata terus bertahan dengan memanfaatkan setiap kesempatan pentas yang masih tersedia. Namun, semakin jarangnya agenda pertunjukan membuat ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai kesenian tradisional juga semakin sempit.
Samari berharap Pemerintah Kabupaten Indramayu, khususnya melalui sektor kebudayaan, dapat memberikan perhatian lebih nyata dengan menghadirkan ruang ekspresi bagi para pelaku seni. Salah satunya melalui penyelenggaraan festival atau pentas budaya secara rutin.
Menurutnya, kegiatan seni budaya yang digelar secara berkala, minimal satu kali setiap bulan, tidak hanya akan membantu menjaga eksistensi Genjring Umbul, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pengenalan budaya lokal kepada generasi muda.
“Harapan kami, pemerintah daerah bisa mengadakan event atau pentas budaya secara rutin. Dengan begitu, Genjring Umbul Bintang Wisata dan kesenian tradisional lainnya tetap hidup, dikenal masyarakat, dan tidak sampai punah karena kurangnya perhatian serta regenerasi,” ungkapnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan hiburan digital, perjuangan para pelaku Genjring Umbul Bintang Wisata menjadi cerminan bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas seniman, melainkan tanggung jawab bersama. Sebab ketika sebuah kesenian tradisional kehilangan panggung dan pewaris, yang hilang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga jejak sejarah, identitas, dan kearifan lokal yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Indramayu.
Kini, harapan itu masih menyala. Selama masih ada orang-orang yang setia memukul rebana, mengajarkan gerak akrobat, dan mengenalkan budaya kepada anak-anak, Genjring Umbul Bintang Wisata akan tetap menjadi denyut yang menjaga warisan leluhur agar terus hidup dari generasi ke generasi.
( Maman )
Genjring Umbul Bintang Wisata Menunggu Pewaris, Bertaruh pada Kepedulian Generasi Muda
Indramayu, Detik sbs – Dentuman rebana dan irama khas Genjring Umbul yang dahulu kerap menghidupkan berbagai hajatan rakyat di Indramayu kini mulai jarang terdengar. Di balik semarak pertunjukannya, tersimpan kegelisahan para pelaku seni yang berjuang mempertahankan salah satu warisan budaya daerah agar tidak hilang ditelan zaman.
Grup Genjring Umbul Bintang Wisata, yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan seni masyarakat Indramayu, kini menghadapi tantangan besar. Minimnya regenerasi, terutama untuk pemain akrobat yang menjadi ikon pertunjukan, membuat keberlangsungan kesenian tradisional ini berada di persimpangan jalan.
Pimpinan Grup Genjring Umbul Bintang Wisata, Samari, mengaku semakin sulit menemukan generasi penerus yang mau dan berani menekuni kesenian tersebut. Padahal, menurutnya, banyak anak-anak yang memiliki bakat dan antusiasme untuk belajar.
“Anak-anak sebenarnya banyak yang tertarik dan punya kemampuan. Namun sering kali proses pembinaan terkendala karena kurangnya dukungan dari orang tua. Bahkan ada yang merasa gengsi jika anaknya menjadi pemain akrobat di kesenian Genjring Umbul Bintang Wisata,” tutur Samari. Rabu/10/06/2026.
Bagi Samari, pandangan itu sangat disayangkan. Ia meyakini bahwa keterlibatan anak-anak dalam kesenian tradisional bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga membentuk karakter, melatih kedisiplinan, keberanian, kerja sama, dan rasa percaya diri.
Pemain akrobat dalam Genjring Umbul, lanjutnya, membutuhkan latihan yang serius dan berkesinambungan. Karena itu, regenerasi harus dipersiapkan sejak dini agar warisan budaya yang diwariskan turun-temurun ini tidak berhenti di generasi sekarang.
“Kalau tidak ada penerus, lama-kelamaan kesenian ini bisa hilang. Padahal Genjring Umbul Bintang Wisata adalah bagian dari identitas budaya Indramayu yang harus kita jaga bersama,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Di tengah keterbatasan, Grup Genjring Umbul Bintang Wisata terus bertahan dengan memanfaatkan setiap kesempatan pentas yang masih tersedia. Namun, semakin jarangnya agenda pertunjukan membuat ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai kesenian tradisional juga semakin sempit.
Samari berharap Pemerintah Kabupaten Indramayu, khususnya melalui sektor kebudayaan, dapat memberikan perhatian lebih nyata dengan menghadirkan ruang ekspresi bagi para pelaku seni. Salah satunya melalui penyelenggaraan festival atau pentas budaya secara rutin.
Menurutnya, kegiatan seni budaya yang digelar secara berkala, minimal satu kali setiap bulan, tidak hanya akan membantu menjaga eksistensi Genjring Umbul, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pengenalan budaya lokal kepada generasi muda.
“Harapan kami, pemerintah daerah bisa mengadakan event atau pentas budaya secara rutin. Dengan begitu, Genjring Umbul Bintang Wisata dan kesenian tradisional lainnya tetap hidup, dikenal masyarakat, dan tidak sampai punah karena kurangnya perhatian serta regenerasi,” ungkapnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan hiburan digital, perjuangan para pelaku Genjring Umbul Bintang Wisata menjadi cerminan bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas seniman, melainkan tanggung jawab bersama. Sebab ketika sebuah kesenian tradisional kehilangan panggung dan pewaris, yang hilang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga jejak sejarah, identitas, dan kearifan lokal yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Indramayu.
Kini, harapan itu masih menyala. Selama masih ada orang-orang yang setia memukul rebana, mengajarkan gerak akrobat, dan mengenalkan budaya kepada anak-anak, Genjring Umbul Bintang Wisata akan tetap menjadi denyut yang menjaga warisan leluhur agar terus hidup dari generasi ke generasi.
( Maman )
•
•

