Indramayu , Detik sbs – Institut Teknologi Petroleum Balongan (ITPB) Indramayu kembali melepas putra-putri terbaiknya ke dunia kerja. Sebanyak 97 mahasiswa resmi diwisuda dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda IV Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar bertepatan dengan Dies Natalis XXIV, Rabu 16 September 2026.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni akademik. Di balik toga dan ijazah yang diterima para wisudawan, ITPB membawa target lebih besar: mencetak tenaga terampil yang benar-benar dibutuhkan industri minyak, gas, petrokimia dan sektor industri lainnya.
Wisuda yang berlangsung di Hotel Swiss-Belinn Indramayu itu diikuti lulusan dari tiga program studi jenjang Diploma III (D3), yakni Teknik Perminyakan, Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kebakaran, serta Teknik Kimia.
Rektor ITPB Indramayu, Drs. H. Nahdudin Islamy, S.Mi.,MPd menegaskan bahwa lulusan D3 diharapkan mampu menjadi tenaga menengah yang memiliki kompetensi dan sanggup mengembangkan kemampuan ketika memasuki dunia industri.
“Mempunyai kualifikasi D3 sebagai tenaga menengah, bisa mengembangkan dan bisa bekerja di industri Pancasila,” ujar Nahdudin saat ditemui usai prosesi wisuda, Rabu /16/09/2026.
Saat ini, jumlah mahasiswa aktif ITPB mencapai sekitar 900 mahasiswa. Angka tersebut diproyeksikan terus berkembang seiring dibukanya dan berkembangnya program pendidikan jenjang S1.
Jika tahun ini ITPB mewisuda 97 mahasiswa program D3, maka tahun depan kampus tersebut memproyeksikan jumlah wisudawan S1 lebih dari 100 orang, bahkan bisa mencapai 200 orang.
Sekretaris Rektor ITPB, Drs Maftuhin Khamami menegaskan bahwa tantangan perguruan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah.
Menurutnya, alumni harus dibekali perpaduan antara kemampuan akademik, karakter dan keterampilan, sehingga mampu bekerja sesuai dengan bidang keahliannya.
“Harapannya sama seperti yang disampaikan Pak Rektor. Kualitas alumni ini bukan hanya ilmu yang didapatkan secara akademik, tapi juga punya karakter. Artinya punya skill sehingga bekerja sesuai dengan kebutuhan atau keahliannya,” kata Maftuhin.
Ia menilai kesesuaian antara bidang pendidikan dengan pekerjaan menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan.
Sebab, tidak sedikit lulusan dari bidang teknik yang pada akhirnya bekerja di luar bidang keahliannya.
“Banyak yang lulusan teknik misalnya, tapi bekerjanya bukan teknik. Ini harapan dari kami,” ujarnya.
Dengan latar belakang pendidikan yang berkaitan erat dengan petrokimia dan industri Pertamina, ITPB berharap alumninya dapat memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke dunia industri yang sesuai dengan kompetensinya.
“Karena basic-nya petrokimia dan industri Pertamina, maka harapannya bisa bekerja di Pertamina,” imbuhnya.

Keberadaan ITPB di Kabupaten Indramayu juga dinilai menjadi peluang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang memiliki keterkaitan dengan potensi industri daerah.
Indramayu selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki aktivitas industri migas dan petrokimia. Kondisi tersebut membuka kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai karakteristik industri.
ITPB diharapkan mampu mengambil peran dalam menjembatani kebutuhan tersebut, sehingga anak-anak muda Indramayu tidak hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya industri di daerahnya sendiri.
Maftuhin bahkan menyinggung sejumlah daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi tidak semuanya memiliki perguruan tinggi yang secara khusus mendukung kebutuhan pendidikan di sektor tersebut.
“Ini contoh kecil dari beberapa provinsi yang ada di Indonesia, seperti Sumatra Utara dan Kalimantan. Mereka punya sumber gas dan minyak, tapi di sana tidak punya sekolah atau perguruan tinggi. Makanya kuliah di sini,” tuturnya.
Karena itu, masyarakat Indramayu yang berada di sekitar ITPB diharapkan dapat memanfaatkan keberadaan kampus tersebut sebagai salah satu pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Dengan jumlah mahasiswa aktif yang kini mencapai sekitar 900 orang, perkembangan ITPB tentu membawa tantangan baru.
Bukan hanya mengejar jumlah mahasiswa dan lulusan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan keterampilan praktik, memperkuat karakter mahasiswa serta memperluas hubungan dengan dunia industri.
Apalagi, target tahun depan yang diproyeksikan mencapai lebih dari 100 hingga 200 wisudawan S1 menjadi sinyal bahwa ITPB sedang memasuki fase pengembangan yang lebih besar.
Harapannya, lulusan yang dihasilkan bukan sekadar membawa gelar akademik, tetapi benar-benar mampu menjawab kebutuhan industri.
Keberadaan ITPB diharapkan menjadi bagian dari upaya mencetak sumber daya manusia lokal yang memiliki kompetensi, karakter dan keterampilan, sekaligus mampu mengambil peran di tengah berkembangnya sektor industri migas dan petrokimia.
ITPB Balongan pun kini menghadapi pekerjaan besar: memastikan setiap lulusan tidak berhenti pada seremoni wisuda, tetapi mampu membuktikan kompetensinya di dunia kerja.
( Maman )
