Top 5 This Week

Related Posts

Masa Pensiun Kardiyah Menjadi Inspirasi Warga Desa

Indramayu, Detik sbs –  Masa pensiun tak selalu identik dengan beristirahat di rumah. Bagi Drs. Kardiyah, M.A., pensiunan guru madrasah yang kini juga masih aktif mengajar sebagai dosen di Kampus Al-Amin Sukra, masa purnatugas justru menjadi awal untuk mengabdi dengan cara berbeda.

Di pekarangan rumahnya di Blok Bunder, Desa Patrol, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, ia merawat puluhan tanaman herbal yang tumbuh subur berkat pupuk kompos racikannya sendiri.

Setiap pagi, sebelum berangkat mengajar atau menjalankan aktivitas lainnya, Kardiyah menyempatkan diri memeriksa satu per satu tanaman yang ditanamnya. Baginya, setiap helai daun yang tumbuh bukan sekadar penghijauan, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga warisan pengobatan tradisional sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hidup selaras dengan alam.

Di lahan yang tidak terlalu luas itu, beragam tanaman herbal tumbuh menghijau, di antaranya keji beling, kumis kucing, widara laut, kitolod, hingga bunga telang. Seluruh tanaman tersebut dibudidayakan menggunakan pupuk kompos organik hasil olahannya sendiri tanpa bergantung pada pupuk kimia.

Menurut Kardiyah, setiap tanaman memiliki manfaat yang berbeda. Keji beling dan kumis kucing telah lama dikenal masyarakat sebagai tanaman yang kerap dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan saluran kemih. Widara laut banyak digunakan sebagai tanaman obat tradisional, sedangkan bunga telang populer sebagai minuman herbal sekaligus pewarna alami. Sementara itu, kitolod merupakan tanaman herbal yang penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai anjuran.

“Tanaman herbal membutuhkan media tanam yang subur. Karena itu saya memilih membuat pupuk kompos sendiri agar kualitas tanah tetap terjaga tanpa bergantung pada pupuk kimia,” ujar Kardiyah saat ditemui di kediamannya.
Sabtu/08/08/2026.

Komitmen tersebut membuatnya terus mengembangkan pupuk kompos berbahan organik yang berasal dari lingkungan sekitar. Bahan-bahan yang digunakan antara lain kotoran kambing, kotoran ayam yang telah difermentasi menggunakan larutan F4, abu bekas pembakaran kayu maupun limbah pabrik tahu, tanah bercampur pasir, dedak, rumput, hingga serbuk kayu.

Seluruh bahan kemudian disusun secara berlapis. Lapisan rumput dan tanah menjadi dasar, dilanjutkan dengan kotoran ternak, abu, serta bahan organik lainnya. Setiap lapisan disiram larutan F4 untuk mempercepat proses fermentasi hingga menghasilkan kompos yang matang dan siap digunakan.

“Kalau komposnya matang, tanaman juga tumbuh lebih sehat dan tidak mudah layu,” katanya.

Bagi Kardiyah, memanfaatkan limbah organik menjadi kompos bukan hanya menghemat biaya, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Limbah yang semula tidak bernilai diubah menjadi sumber nutrisi bagi tanaman, sekaligus mengurangi pencemaran.

Ia berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman herbal sesuai kebutuhan keluarga. Menurutnya, budidaya tanaman herbal tidak memerlukan lahan yang luas, melainkan kemauan untuk merawat tanaman secara rutin dengan media tanam yang baik.

Baginya, tanaman herbal dan pupuk kompos adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kompos menjadi sumber kehidupan bagi tanaman, sementara tanaman herbal yang tumbuh sehat diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kesehatan sekaligus menjaga kelestarian tanaman obat tradisional agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Di tengah semakin tingginya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan ramah lingkungan, langkah sederhana yang dilakukan Kardiyah menjadi bukti bahwa pengabdian tidak berhenti setelah pensiun. Dari sebuah pekarangan sederhana di Desa Patrol, ia terus menebarkan manfaat melalui tanaman herbal, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap alam.
( Maman ).

Popular Articles