JAKARTA, Detik.Sbs — Bagaimana jika sebuah rumah kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat berlindung? Pertanyaan itulah yang menjadi pintu masuk film “Istimewa”, drama keluarga produksi Kairos Film yang membawa kisah anak-anak penyandang disabilitas ke tengah persoalan tentang kehilangan, keberanian dan makna keluarga.
Film garapan sutradara Ruben Adrian dengan produser Abdullah Mansuri ini tidak menempatkan karakter disabilitas sebatas objek yang harus dikasihani, Sebaliknya mereka menjadi penggerak utama cerita sekaligus menghadirkan sudut pandang yang menantang cara penonton memaknai keterbatasan.
Kisah bermula dari Rumah Istimewa, tempat anak-anak menjalani kehidupan bersama Pak Mahendra, diperankan Mathias Muchus, Ketika sosok yang mereka anggap sebagai ayah tersebut tiba-tiba menghilang, kehidupan di rumah itu berubah.

Keputusan untuk mencari Pak Mahendra kemudian membawa mereka keluar dari lingkungan yang selama ini memberikan rasa aman, Perjalanan tersebut menjadi ujian bagi persahabatan, keberanian dan kemampuan mereka menghadapi dunia di luar rumah.
Namun, persoalan utama film ini bukan semata-mata pencarian terhadap seseorang yang hilang,Perjalanan para karakter justru membuka pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya keluarga ketika hubungan darah tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran?
Ruben Adrian mengembangkan cerita berdasarkan berbagai kisah nyata yang diperoleh dari komunitas disabilitas, Pendekatan tersebut membuat isu yang diangkat tidak berhenti pada representasi, tetapi diarahkan untuk memperlihatkan pengalaman, harapan dan perjuangan dari perspektif mereka sendiri.
Sejumlah pemain turut memperkuat film ini, di antaranya Ajil Ditto (Muhammad Fazzill Alditto), Yanni Melwani, Mustofa, Niatus Sholihah, Zulfadli Aldiansyah, Rein, Bambang Ceper, Salsabila Bella, Ricky Komo, Fauzan Nasrul, Agus Kuncoro, dan Ence Bagus.
Dengan durasi sekitar 1 jam 59 menit, “Istimewa” dikemas sebagai drama keluarga yang dapat disaksikan berbagai usia,Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 17 September 2026.
Lebih dari sekadar kisah tentang anak-anak penyandang disabilitas, “Istimewa” mencoba menggeser posisi penonton, Bukan meminta mereka melihat karakter-karakternya dengan rasa iba, melainkan mengajak mempertanyakan kembali cara masyarakat memandang kemampuan, kasih sayang dan keluarga.
Sebab, rumah tidak selalu dibangun oleh pertalian darah, Kadang rumah justru lahir dari orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika yang lain pergi.
Dan lewat “Istimewa”, pertanyaan itu sengaja dibiarkan menggantung: ketika seseorang dianggap berbeda oleh dunia, apakah dunia sudah benar-benar memberi mereka ruang untuk menjadi dirinya sendiri?

