JAKARTA, Detik.Sbs — Dua puluh tahun meninggalkan kampung halaman ternyata tidak cukup untuk mengubur masa lalu, Lewat film “Empat Musim Pertiwi”, Putri Marino kembali sebagai Pertiwi, perempuan yang harus menghadapi kembali luka, trauma dan misteri yang selama ini membayangi hidupnya.
Film garapan sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah melalui Fourka Films tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Kepulangan Pertiwi bukan sekadar perjalanan menuju tempat yang pernah ditinggalkan,Justru di tanah kelahirannya, berbagai persoalan lama kembali muncul dan memaksanya mempertanyakan identitas serta keputusan yang pernah membentuk hidupnya.
Putri Marino mengaku melakukan pendalaman karakter dengan berbagai cara, termasuk membaca buku untuk memahami kondisi emosional Pertiwi.
“Pertiwi adalah perempuan yang harus berhadapan dengan masa lalu dan menemukan kembali dirinya,Kepulangan tidak selalu berarti kembali menjadi orang yang sama,” ujar Putri Marino.
Trauma Kolektif di Balik Kepulangan Pertiwi,Kamila Andini tidak hanya membawa penonton mengikuti konflik personal Pertiwi,Film ini juga menyentuh isu ketidakadilan dan trauma kolektif.

Menurut Kamila, perjalanan Pertiwi memperlihatkan bagaimana seseorang yang berada dalam kondisi rapuh tetap dapat menemukan kekuatan, bahkan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain.
Keunikan film semakin terasa melalui perpaduan sejumlah genre,Drama bertemu suspense thriller, misteri hingga fiksi ilmiah, menciptakan pengalaman yang tidak hanya berpusat pada konflik emosional tokoh utama.
Bromo Jadi Saksi Perjalanan Pertiwi
Lanskap Bromo turut menjadi elemen penting dalam membangun dunia film,Hamparan alam yang luas dipadukan dengan gaya busana bernuansa cowboy western, menghasilkan identitas visual yang kuat sekaligus mempertegas perjalanan emosional Pertiwi.
Selain Putri Marino, film ini menghadirkan Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, Totos Rasiti, Iswadi Pratama, Hargi Sundai, Ayub Antoh, serta almarhum Donikus.
“Empat Musim Pertiwi” juga telah membawa cerita Indonesia ke panggung festival internasional, Film ini menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival (TIFF) dan dijadwalkan hadir dalam rangkaian festival di Busan, Tokyo, serta Singapore International Film Festival 2026.
Materi publikasi film juga menyebut karya tersebut dipilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film pada Oscar 2027.

Kini pertanyaan terbesar bukan sekadar ke mana Pertiwi pulang, tetapi apakah ia mampu menghadapi sesuatu yang selama dua dekade berusaha ditinggalkannya.
“Empat Musim Pertiwi” mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia.

