Indramayu, Detik.sbs – Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dikenal sebagai salah satu desa yang masih kuat menjaga tradisi leluhur. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah ritual Mapag Tamba, sebuah upacara adat yang dipercaya sebagai bentuk ikhtiar para petani untuk menjaga tanaman padi dari hama dan penyakit.
Secara makna, Mapag Tamba berasal dari bahasa Sunda, yaitu “mapag” yang berarti menyambut atau menjemput, dan “tamba” yang berarti obat. Ritual ini dimaknai sebagai upaya menjemput “obat” bagi tanaman padi agar tumbuh subur serta menghasilkan panen yang melimpah. Tradisi ini juga menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam menjaga keberlangsungan pertanian.
Desa Tugu sendiri merupakan desa dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 20 ribu jiwa. Wilayah ini terbagi menjadi dua desa, yakni Desa Tugu Induk dan Desa Tugu Kidul sebagai desa pemekaran. Dengan hamparan sawah yang luas, sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencahariannya dari sektor pertanian, terutama padi dan palawija.
Saat ditemui awak media, Kuwu Tugu Suwanto yang akrab disapa Mang Boreng mengatakan bahwa tradisi Mapag Tamba tetap dilaksanakan meskipun masyarakat sedang menjalankan ibadah puasa.
“Alhamdulillah meski pun dalam kondisi berpuasa adat mapag Tamba tak menjadi hambatan untuk tidak dilaksanakan,” ucapnya, Jumat/06/03/2026.
Lebih lanjut, Boreng menjelaskan bahwa seluruh pamong desa yang ikut dalam ritual tersebut mengenakan pakaian serba putih saat memberikan “obat” ke area persawahan.
“Kami tetap menjaga dan melestarikan warisan dari leluhur, kami yakin dengan cara ikhtiar dan memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha esa, para petani bisa mendapatkan hasil panen yang lebih baik,” tambahnya.
Selain melestarikan tradisi, pihak pemerintah desa juga terus memberikan edukasi kepada para petani agar menjaga saluran irigasi tetap lancar serta segera berkoordinasi dengan petugas pertanian jika muncul gejala penyakit pada tanaman.
Pelaksanaan Mapag Tamba dilakukan dengan cara berkeliling ke seluruh area persawahan di desa. Para pamong desa dibagi ke beberapa titik agar seluruh lahan pertanian dapat disiram dengan air doa yang telah disiapkan.
“Bismillah dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an seluruh pamong dengan berjumlah sebanyak 16 orang berangkat dari balai desa dengan dikawal hansip serta menuju pesawahan yang sudah ditentukan pada saat fajar belum terlihat,” sambungnya.
Sebagai kepala desa, Suwanto juga menyoroti sejumlah persoalan pertanian yang masih dihadapi para petani, seperti serangan hama tikus. Ia berharap para petani tetap kompak dan saling bergotong royong agar Desa Tugu tetap menjadi salah satu penyumbang hasil padi terbesar di Kabupaten Indramayu.
“Saya berharap para petani tetap kompak dan bergotong-royong serta saya menghimbau tentang penggunaan alat listrik di sawah agar berhati-hati jangan sampai ada korban jiwa,” tukasnya.
( Maman )

