Indramayu,Detik sbs — Ada suara yang perlu didengar dari balik aktivitas pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Pahlawan Indramayu. Sejumlah wali murid mempertanyakan pola komunikasi dan kepemimpinan sekolah yang dinilai belum mampu membangun kedekatan dengan orang tua siswa.
Bagi para wali murid, sekolah bukan hanya tempat anak mendapatkan pendidikan. Sekolah juga membutuhkan keterlibatan orang tua, terutama dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian lebih, baik dalam proses belajar maupun pengembangan bakat dan kemampuan sosial mereka.
Namun, menurut pengakuan salah seorang wali murid berinisial S, komunikasi antara sekolah, komite, dan wali murid dinilai masih minim. Bahkan, selama kurang lebih empat tahun menyekolahkan anaknya di SLB Negeri Pahlawan, ia mengaku belum pernah menerima undangan resmi untuk mengikuti rapat atau pertemuan bersama wali murid.
“Pengennya kita sebagai wali murid ada hubungan emosional antara orang tua murid, komite, dan kepala sekolah sebagai pemimpin. Misalnya ada riungan atau rapat-rapat kecil untuk membicarakan kegiatan sekolah,” ujar S, Kamis /20/08/2026.
Menurut S, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian serius. Sebab, komunikasi antara orang tua dan sekolah sangat penting untuk mengetahui perkembangan anak sekaligus menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi siswa.
Ia juga mempertanyakan kegiatan sekolah yang dinilai belum maksimal, termasuk kegiatan Pramuka dan kegiatan untuk memperingati hari-hari besar Nasional.
“Anak-anak kita yang berkebutuhan khusus ini ingin ada rangkulan dari sekolah. Mereka juga membutuhkan kegiatan dan perhatian yang bisa memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang,” katanya.
S mengaku tidak bermaksud menyudutkan pihak sekolah. Ia justru berharap hal-hal positif dari kepemimpinan sebelumnya tetap dipertahankan, sementara kekurangan yang ada dapat diperbaiki.
“Kita sudah empat tahun di sini. Harapannya, hal-hal baik dari kepemimpinan sebelumnya bisa diambil dan ditingkatkan, sedangkan yang kurang baik diperbaiki,” ungkapnya.
Menurut dia, persoalan komunikasi tersebut juga bukan hanya menjadi keluhan dirinya. Ia menyebut sejumlah wali murid dari berbagai jenjang, mulai TK, SD, SMP hingga SMA, turut memiliki keluhan yang hampir sama.
“Banyak orang tua murid yang mengeluh, baik dari tingkat TK, SD, SMP sampai SMA. Sebenarnya banyak keluhannya, tetapi kami bingung harus menyampaikannya ke mana,” tuturnya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan adanya kebutuhan akan saluran komunikasi yang jelas antara sekolah dengan orang tua siswa.
Para wali murid berharap pihak yang memiliki kewenangan tidak membiarkan keluhan tersebut berhenti sebagai pembicaraan di antara orang tua. Mereka meminta adanya ruang dialog yang terbuka untuk mencari solusi bersama.
“Mohon barangkali ada tindakan atau komunikasi dari pihak yang berwenang. Mari kita bersama-sama ngobrol demi SLB Negeri Pahlawan Indramayu. Yang bagus kita ambil, yang baik kita tingkatkan, dan yang kurang baik kita perbaiki,” ujarnya.
Sementara itu, ketika hendak dikonfirmasi mengenai berbagai keluhan tersebut di kantor SLB Negeri Pahlawan, Kepala Sekolah Wawan diketahui sedang sakit.
Di tengah kondisi tersebut, istri kepala sekolah terlihat turut menangani sejumlah urusan di lingkungan sekolah. Situasi ini kemudian menjadi perhatian karena muncul pertanyaan di kalangan wali murid mengenai pola koordinasi dan pengelolaan sekolah ketika kepala sekolah berhalangan menjalankan aktivitasnya.
Meski demikian, keberadaan istri kepala sekolah di lingkungan sekolah tidak dapat langsung dimaknai sebagai pengambilalihan jabatan atau kewenangan kepala sekolah. Hal tersebut membutuhkan penjelasan resmi dari pihak sekolah maupun instansi yang berwenang.
Karena itu, persoalan ini masih membutuhkan klarifikasi dari Kepala SLB Negeri Pahlawan Wawan serta Dinas Pendidikan terkait, terutama mengenai mekanisme pengelolaan sekolah ketika kepala sekolah sedang sakit dan bagaimana koordinasi dengan komite serta wali murid selama ini berjalan.
Jangan Biarkan Keluhan Orang Tua Berhenti di Gerbang Sekolah
Bagi para wali murid, kritik yang disampaikan bukan semata-mata untuk mencari kesalahan. Mereka ingin sekolah menjadi tempat yang benar-benar memberikan ruang tumbuh bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Semua organisasi, dinas pendidikan, maupun elemen masyarakat tentunya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita,” pungkasnya.
Kini, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya rapat wali murid. Lebih jauh, para orang tua mempertanyakan apakah ruang komunikasi antara sekolah dan keluarga siswa sudah benar-benar terbuka.
Sebab, ketika orang tua merasa memiliki keluhan tetapi bingung harus menyampaikannya kepada siapa, maka yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan, melainkan ruang dialog yang nyata, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Para wali murid berharap persoalan tersebut segera mendapat perhatian dari pihak sekolah, komite, dan Dinas Pendidikan agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Pada akhirnya, semua pihak memiliki kepentingan yang sama: memastikan anak-anak berkebutuhan khusus di SLB Negeri Pahlawan Indramayu mendapatkan pendidikan, pendampingan, kegiatan, dan pelayanan terbaik.
( Maman )

