Detik.sbs, JAKARTA – Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menggelar konferensi pers khusus menanggapi eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Duta Besar Mohammad Boroujerdi menyatakan bahwa Iran kini berada dalam posisi membela diri secara sah sesuai Pasal 51 Piagam PBB setelah serangkaian agresi yang menargetkan warga sipil dan fasilitas strategis.
Pertemuan yang berlangsung di Kediaman Duta Besar Iran untuk Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (2/3/2026) pukul 16:00 WIB ini, menjadi panggung bagi Teheran untuk mengungkap dampak kemanusiaan dari serangan tersebut. Insiden yang terjadi di tengah bulan suci Ramadhan ini dilaporkan merenggut nyawa lebih dari 555 warga sipil, termasuk 200 anak sekolah dasar.
Duta Besar menekankan bahwa agresi ini bukan sekadar konflik militer, melainkan upaya sabotase terhadap proses diplomasi yang sedang berjalan di bawah mediasi internasional.
Sabotase Diplomasi dan Pelanggaran Kedaulatan
Mohammad Boroujerdi mengungkapkan kekecewaan mendalam atas sikap Amerika Serikat yang melakukan serangan saat negosiasi putaran keenam sedang dipersiapkan. Menlu Oman disebut telah memberikan sinyal positif terkait jalannya dialog, namun aksi militer seketika meruntuhkan kepercayaan diplomasi tersebut.
Iran juga menyayangkan penggunaan wilayah negara tetangga yang seharusnya netral sebagai jalur agresi. Hal ini memperkuat justifikasi bagi Iran untuk melakukan pembalasan ke basis militer AS di kawasan tersebut sebagai langkah proteksi nasional.
“Kami tidak akan bernegosiasi tanpa jaminan konkret. Sejarah membuktikan tidak ada jaminan kesepakatan akan dihormati setelah AS keluar sepihak dari JCPOA,” tegasnya di hadapan awak media.
Perang Narasi dan Propaganda Media
Selain menghadapi serangan fisik, Iran mengaku sedang bertarung dalam perang narasi. Media mainstream yang berafiliasi dengan pihak Barat dituding menyebarkan framing palsu untuk membenarkan agresi militer. Keterlibatan agen intelijen seperti CIA dan Mossad juga disoroti dalam memanipulasi ketegangan sosial di dalam negeri Iran.
Pihak Kedutaan mengajak insan media di Indonesia untuk melakukan verifikasi fakta secara mandiri. Peran media independen dianggap krusial sebagai penjaga kebenaran untuk melawan propaganda yang mengaburkan realitas di lapangan.
Harapan pada Solidaritas Indonesia dan D-8
Sebagai negara dengan populasi Muslim besar, Indonesia diharapkan mengambil peran lebih aktif. Iran mengapresiasi dukungan moral masyarakat Indonesia yang terus mengalir melalui pesan dan doa. Namun, Teheran mendorong adanya langkah politik yang lebih nyata dari pemerintah Indonesia.
Apalagi, Indonesia memegang kepemimpinan organisasi D-8 untuk periode 2026-2027. Iran meminta agar forum ini memberikan kutukan keras terhadap serangan ilegal tersebut. Dukungan kolektif dari dunia Islam dan organisasi internasional seperti OKI dan PBB dinilai sangat penting untuk menekan agresor.
“Persatuan umat Islam adalah atap yang melindungi kita semua. Jika atap ini roboh karena perpecahan, maka seluruh komunitas akan terkena dampaknya,” ungkap narasumber menutup pernyataan.
Kesiapan Logistik dan Evakuasi Warga Asing
Terkait situasi di lapangan, Iran telah mengaktifkan protokol perlindungan warga berdasarkan pengalaman konflik sebelumnya. Pembangunan shelter dan persiapan evakuasi bagi warga negara asing sedang dikoordinasikan dengan berbagai kedutaan besar.
Pemerintah Indonesia diimbau untuk terus menjalin komunikasi intensif dengan pihak berwenang di Teheran guna memperbarui status perlindungan warga negara Indonesia yang berada di sana. Iran menjamin keamanan Selat Hormuz sebagai urat nadi ekonomi global tetap menjadi prioritas mereka, meski di tengah tekanan militer yang masif.
