Sabtu, April 4, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

IPOSS Rilis Outlook Sawit Q2 2026, Harga CPO Global Diprediksi Meroket ke USD 1.783.

JAKARTA – Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) resmi meluncurkan Outlook Sawit Q2 2026 pada Senin (30/3/2026). Laporan tersebut menyoroti fase penyesuaian kompleks yang tengah dihadapi industri sawit nasional akibat tekanan geopolitik global dan transisi energi.

​Salah satu temuan paling signifikan dalam outlook ini adalah proyeksi penguatan tajam harga minyak sawit mentah (CPO) sepanjang triwulan kedua tahun 2026. IPOSS memperkirakan eskalasi konflik antara Iran vs Amerika Serikat-Israel akan memicu kenaikan harga energi global yang berdampak langsung pada harga CPO.

​Berikut adalah rincian proyeksi kenaikan harga CPO global per ton: Maret 2026: USD 1.165, ​April 2026: USD 1.440, ​Mei 2026: USD 1.701, Juni 2026: USD 1.783.

​IPOSS menjelaskan bahwa kaitan erat antara pasar sawit dan energi terjadi karena biodiesel menjadi lebih kompetitif saat harga minyak mentah dunia naik. Selain itu, biaya logistik dan premi risiko global yang meningkat turut menguatkan peran CPO sebagai komoditas strategis dalam sistem energi, bukan sekadar komoditas pangan.

​Hal ini juga turut memberikan Dampak pada Pasar Domestik. Kenaikan harga di pasar internasional diproyeksikan akan merambat ke pasar dalam negeri. Harga CPO domestik yang tercatat sebesar Rp15.065 per kilogram pada Maret 2026, diperkirakan melonjak menjadi Rp18.776 per kilogram pada April 2026.

​Namun, IPOSS mencatat bahwa pembentukan harga di Indonesia juga akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal pemerintah, seperti; Harga Referensi, Pungutan Ekspor, dan Bea Keluar.

​Di tengah lonjakan harga, industri sawit Indonesia justru menghadapi tantangan dari sisi suplai, dimana kondisi produksi menurun dan juga pasokan terbatas. Produksi nasional CPO dan CPKO hingga akhir Q2 2026 diprediksi mencapai 23,7 juta ton, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 24,0 juta ton.

​Penurunan juga terjadi pada sisi ekspor yang diperkirakan hanya mencapai 6,70 juta ton, lebih rendah dari angka 7,22 juta ton pada Q2 2025. Kondisi ini diperparah oleh faktor iklim, di mana Indonesia mulai bergerak dari fase basah menuju risiko musim kering yang lebih dini di sejumlah wilayah sentra produksi.

​Rekomendasi Strategis untuk menghadapi dinamika ini, IPOSS menekankan bahwa ketahanan industri sawit tidak boleh hanya bergantung pada respons harga jangka pendek. Perlu ada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik—terutama untuk konsumsi biodiesel yang tetap menjadi penopang utama—dan kepentingan ekspor.

​”Isu struktural seperti produktivitas kebun rakyat dan percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tetap menjadi faktor kunci untuk menjaga keberlanjutan pasokan nasional,” tulis IPOSS dalam laporannya.

​Outlook ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam memetakan arah industri di tengah ketidakpastian geopolitik dan perdagangan global yang sedang berlangsung.

 

 

 

 

 

 

 

Popular Articles