Indramayu, Detik sbs – Ketimpangan penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Hingga kini, sebanyak 271 siswa di SDN Lamaran Tarung 3, Blok Waledan, Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, belum juga merasakan manfaat program yang digadang-gadang untuk meningkatkan gizi anak sekolah tersebut.
Ironisnya, kondisi ini terjadi meskipun pihak sekolah telah memenuhi seluruh prosedur administrasi, termasuk pengiriman data siswa yang diminta oleh dinas terkait sejak awal program digulirkan.
Kepala SDN Lamaran Tarung 3, Jenal Aripin, S.Pd., mengaku heran sekaligus kecewa dengan belum tersentuhnya sekolah yang dipimpinnya oleh program tersebut.
“Sejak awal program MBG berjalan, sekolah kami belum pernah menerima bantuan. Padahal, data siswa sudah beberapa kali diminta, baik oleh pihak dinas maupun instansi terkait, dan semuanya sudah kami kirimkan,” tegas Jenal. Saat di temui awak media di ruang kerjanya.Pada Kamis/16/04/2026.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar, terlebih ketika sekolah lain di wilayah yang sama sudah mulai menerima program MBG secara rutin.
“Kalau sekolah lain sudah dapat, kenapa kami belum? Ada apa dengan sekolah kami? Ini yang menjadi pertanyaan, dari kami, ” lanjutnya.
Di sisi lain, harapan besar justru datang dari para siswa. Setiap hari, mereka menantikan giliran sekolahnya mendapatkan program tersebut.
“Anak-anak sering bertanya, ‘Pak, kapan kita dapat MBG?’ Pertanyaan itu terus berulang. Kami hanya bisa menjawab dengan meminta mereka bersabar,” ungkap Jenal dengan nada prihatin.
Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah untuk tidak tinggal diam. Sebagai bentuk kepedulian dan upaya menjaga kebersamaan, sekolah bersama orang tua siswa berinisiatif menggelar kegiatan makan bersama setiap hari Sabtu.
Meski sederhana, kegiatan tersebut menjadi simbol solidaritas antara sekolah dan wali murid. Para siswa membawa bekal dari rumah masing-masing, lalu menyantapnya bersama di lingkungan sekolah.
“Ini murni inisiatif kami. Orang tua sangat mendukung. Walaupun belum ada MBG, setidaknya anak-anak tetap bisa merasakan kebersamaan dan pentingnya makan bergizi,” jelasnya.
Namun demikian, Jenal menegaskan bahwa langkah tersebut bukanlah solusi utama, melainkan bentuk alternatif sementara di tengah ketidakpastian
“Kami tidak ingin ini berlarut-larut. Program MBG ini sangat dinantikan, bukan hanya untuk kebersamaan, tapi juga untuk menunjang gizi anak-anak. Harapannya tentu ada pemerataan dan kejelasan,” tegasnya.
Sementara itu, suara polos siswa justru menggambarkan harapan yang sederhana namun menyentuh.
“Kami ingin seperti teman-teman di sekolah lain, bisa makan dari program MBG. Semoga sekolah kami segera dapat,” ujar salah satu siswa.
Situasi ini memunculkan sorotan terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan. Pemerataan distribusi dinilai menjadi hal krusial agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan sekolah.
Pihak sekolah pun berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera memberikan penjelasan sekaligus solusi konkret, agar seluruh siswa tanpa terkecuali dapat merasakan manfaat program yang telah dicanangkan tersebut.
( Maman )

