Minggu, Mei 24, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Deru Mesin Panen di Sawah Indramayu, Saat Buruh Derep Perlahan Kehilangan Penghasilan

Indramayu, Detik sbs – Hamparan sawah di Kabupaten Indramayu masih tampak luas menghijau menjelang panen raya. Namun suasana yang dahulu identik dengan keramaian para buruh derep kini perlahan berubah.
Suara tawa petani dan bunyi alat gebot padi tradisional mulai tergantikan oleh deru combine harvester (mesin panen modern) yang bekerja cepat menyisir area persawahan.

Perkembangan teknologi pertanian di Indramayu terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Metode panen tradisional yang dahulu sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia kemudian berkembang dengan penggunaan mesin grabag sebagai alat perontok padi. Kini, penggunaan combine harvester semakin banyak ditemui saat musim panen raya karena dianggap mampu mempercepat proses panen sekaligus mengurangi risiko kerusakan hasil pertanian akibat cuaca.

Bagi pemilik lahan sawah, penggunaan alat panen mekanis dinilai lebih praktis sekaligus membantu menjaga kualitas gabah agar tetap baik saat dijual ke pasar.

“Kalau pakai komben, panen lebih cepat, gabah juga lebih bagus. Harga jualnya lebih tinggi dibanding pakai gebot atau grabagan,” ujar seorang petani pemilik lahan yang enggan disebutkan namanya.
Pada Senin ( 18/05/2026 ).

Meski biaya penggunaan combine harvester lebih mahal, banyak petani tetap memilih cara tersebut karena dianggap lebih efektif dan minim risiko. Untuk satu bau lahan sawah atau sekitar 7.000 meter persegi, biaya penggunaan alat panen tersebut mencapai sekitar Rp2,7 juta dalam sekali panen. Sementara metode grabag membutuhkan biaya sekitar Rp1,4 juta, belum termasuk bawon atau bagian hasil panen yang diberikan kepada buruh pemotong padi.

Selain soal efisiensi, faktor cuaca juga menjadi pertimbangan utama petani. Pada metode manual atau grabag, padi yang sudah dipotong biasanya harus menunggu proses perontokan hingga keesokan hari. Kondisi itu berisiko apabila hujan turun dan merendam hasil panen di sawah.

“Kalau pakai mesin grabag, prosesnya lebih lama karena gabah baru dirontokkan keesokan harinya. Belum kalau hujan.” Ungkapnya

Di balik kemudahan yang ditawarkan perkembangan teknologi pertanian, ada cerita lain yang dirasakan para buruh tani. Sebagian masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan penghasilan dari pekerjaan derep mulai kehilangan kesempatan kerja karena kebutuhan tenaga manusia di sawah semakin berkurang drastis.

“Dulu kalau panen tiba kami masih bisa dapat penghasilan dari memanen padi. Sekarang sejak banyak mesin panen, kerjaan jadi berkurang. Penghasilan juga ikut turun,” ujar seorang buruh tani dengan nada lirih.

Bagi para buruh derep, masa panen dulu menjadi momen penting untuk memperoleh penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, kesempatan itu perlahan semakin sempit seiring berkembangnya teknologi pertanian.

Meski demikian, warga memahami bahwa perubahan di sektor pertanian menjadi bagian dari perkembangan zaman yang sulit dihindari. Karena itu, masyarakat berharap kemajuan teknologi tetap berjalan seiring perhatian terhadap nasib para buruh tani yang terdampak.

Sejumlah warga berharap pemerintah daerah maupun dinas terkait dapat menghadirkan solusi berupa pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi alternatif, hingga program pendampingan kerja bagi buruh tani yang kehilangan mata pencaharian musiman akibat perubahan sistem panen.

Di tengah cepatnya perkembangan teknologi pertanian, masyarakat berharap kemajuan yang hadir di sawah-sawah Indramayu tetap berjalan berdampingan dengan keberlangsungan hidup para buruh tani yang selama puluhan tahun menggantungkan harapan dari musim panen.
( Maman )

Popular Articles