Muara Enim, 22 Mei 2026
MEDIA – DETIK SBS Yayasan Mitra Hijau kembali melanjutkan rangkaian program penguatan kapasitas komunitas lokal dan pelaku UMKM di Kabupaten Muara Enim melalui kegiatan Pelatihan Roasting Kopi dan Standar Mutu Produk untuk Penguatan Green Jobs bagi Komunitas di Kabupaten Muara Enim. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelatihan sebelumnya terkait strategi pemasaran dan digital marketing yang telah dilaksanakan untuk komunitas dan UMKM di Kabupaten Muara Enim.
Pelatihan kali ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Yayasan Mitra Hijau, Assistant Coordinator Yayasan Mitra Hijau. Dalam sambutannya, Dwi Annisyah, S.Pd menyampaikan bahwa penguatan kapasitas komunitas dan pelaku UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi pemasaran, tetapi juga kualitas produk dan pengembangan keterampilan yang mendukung terciptanya green jobs di tingkat lokal.
“Kami berharap pelatihan ini dapat membantu komunitas lokal dan pelaku UMKM memahami pentingnya standar mutu, pengolahan yang baik, serta pengembangan produk kopi lokal agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Dwi Annisyah.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari BSPJI Palembang, Susi Heryani, yang menyampaikan materi mengenai standar mutu kopi dan penerapan pengolahan pangan yang aman. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kualitas kopi sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan dalam proses pengolahan sejak pascapanen hingga distribusi produk.
“Pengolahan kopi yang aman dan sesuai standar bukan hanya menjaga kualitas rasa, tetapi juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk kopi lokal,” jelas Susi Heryani.
Materi terkait Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) juga disampaikan oleh narasumber BSPJI Palembang, Aprillena Tornadez Bondan. Dalam sesi tersebut, Aprillena menegaskan pentingnya penerapan prinsip higiene, sanitasi, dan pengawasan proses produksi dalam menjaga keamanan pangan dan kualitas produk UMKM.
“Penerapan CPPOB bukan hanya untuk memenuhi standar keamanan pangan, tetapi juga menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan konsumen dan meningkatkan daya saing produk UMKM di pasar,” ungkap Aprillena Tornadez Bondan.
Selain itu, materi mengenai proses kopi dari hulu ke hilir serta praktik roasting kopi disampaikan oleh Komunitas Muara Enim Coffee (MEC), Alwin Hasan dari divisi Research & Development dan Founder WD Official, Robby Nugraha. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya proses pengolahan, standardisasi mutu, hingga roasting dan brewing dalam menciptakan kopi berkualitas.
Alwin Hasan menyampaikan bahwa kualitas kopi dimulai sejak dari kebun dan proses pascapanen yang tepat.
“Processing menjadi salah satu faktor penting yang menentukan karakter rasa dan nilai jual kopi. Ketika petani dan komunitas memahami proses yang baik, kopi tidak lagi hanya dijual sebagai komoditas, tetapi sebagai produk bernilai,” ungkap Alwin Hasan.
Sementara itu, Robby Nugraha menekankan pentingnya konsistensi kualitas dalam setiap tahapan pengolahan kopi.
“Setiap proses, mulai dari panen, processing, roasting hingga brewing memiliki peran penting dalam menghasilkan secangkir kopi berkualitas. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan praktik langsung sangat penting bagi komunitas kopi lokal,” ujar Robby Nugraha.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan sesi diskusi interaktif dan praktik roasting serta brewing kopi. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi pelatihan berlangsung, terutama dalam membahas peluang pengembangan kopi lokal Muara Enim sebagai produk unggulan daerah sekaligus mendukung pengembangan green jobs berbasis potensi lokal.
Yayasan Mitra Hijau berharap rangkaian pelatihan ini dapat mendorong peningkatan kapasitas komunitas lokal dan UMKM, tidak hanya dalam aspek pemasaran digital, tetapi juga dalam peningkatan kualitas produk, keterampilan pengolahan, dan pengelolaan usaha yang berkelanjutan. Dengan penguatan kapasitas tersebut, komunitas dan pelaku UMKM diharapkan mampu menciptakan produk yang lebih kompetitif serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal secara inklusif dan berkelanjutan.
G.sasmita

