H-2 Pitulasan Gn. Andong via BC Pendem Merawat Pusaka : Sapta Arga Cakra Nagari, Bendera 81 Meter dari 7 Sabda Gunung

Itulah Bendera Pusaka “Sapta Arga Cakra Nagari” yang akan dikibarkan esok lusa 17 Agustus 2026 dalam agenda “Andong Nyawiji #5”.
Sabda Pusaka: Sebelum Bendera Dibentangkan
Sebelum langkah pertama diayunkan.
Sebelum bendera dibentangkan.
Sebelum angin menyentuh kain Merah Putih.
Ada sebuah perjalanan yang harus dimengerti.
Bahwa pusaka tidak lahir dari kemegahan.
Pusaka lahir dari laku.
Dari langkah yang panjang.
Dari keringat yang jatuh ke tanah.
Dari doa yang dipanjatkan dalam kesunyian.
Dari keberanian menghadapi diri sendiri.
Dan dari pengabdian yang tidak menuntut untuk dikenang.
Di tanah Jawa, gunung-gunung berdiri bukan sekadar sebagai batu yang menjulang ke langit. Ia adalah saksi. Saksi atas perjalanan manusia.
Dan pada perjalanan inilah tujuh gunung dipertemukan. Tujuh kekuatan. Tujuh ujian. Tujuh pintu kesadaran. Yang kemudian dirangkai menjadi satu pusaka : Sapta Arga Cakra Nagari
7 Sabda, 1 Perjalanan
1. Di Bukit Tidar, manusia belajar berdiri.
_“Tegaklah sebelum engkau berjalan.”_
Menancapkan kaki pada bumi. Menguatkan hati. Menegakkan niat.
2. Di Gunung Prau, manusia belajar mengarungi.
_“Berlayarlah, meskipun engkau tidak tahu di mana badai berikutnya akan datang.”_
Karena hidup tidak selalu tenang.
3. Di Gunung Bismo, manusia bertemu dengan guru.
_“Carilah ilmu, tetapi jangan kehilangan budi.”_
Pengetahuan tanpa kebajikan adalah kesombongan.
4. Di Gunung Kembang, manusia berhadapan dengan keindahan.
_“Nikmatilah keindahan, tetapi jangan menjadi budaknya.”_
Tidak semua yang indah harus dimiliki.
5. Di Gunung Sindoro, manusia berhadapan dengan kekuasaan.
_“Jika engkau diberi kuasa, jangan gunakan untuk meninggikan dirimu. Gunakan untuk mengangkat mereka yang berada di bawahmu.”_
Kekuasaan adalah amanah.
6. Di Gunung Sumbing, manusia melihat wajah kehinaan.
_“Jangan sampai engkau menjadi tinggi di mata dunia, tetapi rendah di hadapan kebenaran.”_
7. Di Gunung Merbabu, manusia menemukan arti pengabdian.
_“Hiduplah bukan hanya untuk dirimu. Jadilah manfaat bagi tanah tempat kakimu berpijak.”_
Dan akhirnya…
Di Gunung Andong, manusia menaiki kereta kencana.
Bukan kereta menuju kerajaan dunia.
Melainkan kereta menuju kemenangan yang paling sulit : Kemenangan atas dirinya sendiri.
Di sanalah manusia menyadari bahwa peperangan terbesar tidak pernah berada di luar dirinya. Musuh itu bersemayam di dalam: kesombongan, keserakahan, ketakutan, amarah, nafsu, dan keegoisan.
Laku di Malam H-2
Dalam dokumentasi H-1, terlihat jelas “laku” itu. Ada relawan yang duduk merapikan tali di ujung bendera. Ada tim yang berdiskusi di atas hamparan merah putih. Ada yang menggulung kain untuk dibawa ke puncak. Ada rapat koordinasi di warung kecil hingga larut malam & ada pula ibu Neng Agung Santika selaku Komisaris PT Nasani yang turut merapihkan beberapa jahitan bagian bendera yang lepas dari tali secara manual dengan tangan beliau sendiri.
Tidak ada kemewahan. Hanya ketelitian, doa, dan kerja bersama.
“Bendera ini adalah simbol. Simbol bahwa mencintai Negeri harus dimulai dari menaklukkan diri sendiri. Baru kemudian kita bisa menjaga alam dan sesama” ujar Sani salah satu Kordinator tim di lapangan.
Esok lusa, “Sapta Arga Cakra Nagari” akan dibentangkan di jalur ekstrem Jembatan Setan Gunung Andong. Diiringi upacara khidmat dan pelepasan burung endemik. Karena bagi kami, nasionalisme dan pelestarian alam adalah satu napas.
Dengan semangat “Jadilah Bagian dari Nusantara” dan “Bersama Kita Merdeka, Bersatu Kita Kuat”, kami persembahkan pusaka ini untuk Indonesia. Bersama SRIKANDI NASANI mari kita Membangun Dengan Kebijaksanaan dan Berkembang Dengan Kehormatan.
Sumber informasi [Liza : 087725555758]
[email : PT.nasani.26@gmail.com]
[IG : @pt.nasani]
[TT : @nasani.official]