Minggu, Mei 24, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Laporan EAT-Lancet 2025: Indonesia Hadapi Ancaman Krisis Nutrisi dan Risiko Ekonomi Makro

Detik.sbs, JAKARTA Koalisi Sistem Pangan Lestari bersama sejumlah lembaga riset nasional meluncurkan laporan ilmiah global EAT-Lancet 2025 Report di Millennium Hotel Sirih Jakarta Pusat pada Senin, 18 Mei 2026. Agenda strategis ini berfokus pada urgensi transformasi radikal menuju pemenuhan pola makan sehat serta perbaikan sistem pangan yang berkelanjutan dan berkeadilan di Indonesia. Kegagalan dalam membenahi tata kelola pangan nasional saat ini memicu ancaman serius terhadap penurunan kualitas kesehatan generasi masa depan serta menimbulkan kerugian finansial yang masif akibat beban ganda malnutrisi. Krisis transisi ini memaksa pemerintah dan sektor swasta untuk segera merombak rantai pasok komoditas pangan dari hulu hingga hilir guna menghindari kebangkrutan ekologis.

​Ancaman Nyata Krisis Nutrisi Dan Kerusakan Lingkungan Makro

​Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, MS menjelaskan bahwa ketahanan nasional saat ini sedang menghadapi titik nadir akibat degradasi lingkungan yang dipicu oleh aktivitas produksi pangan yang eksploitatif. Polusi zat kimia nitrogen, penyusutan cadangan air bersih secara drastis, serta hilangnya keanekaragaman hayati mempercepat laju kerusakan biosfer bumi. Transformasi global tidak lagi menjadi sebuah pilihan sukarela melainkan kewajiban mutlak yang harus dieksekusi oleh otoritas pengambil kebijakan demi menjaga stabilitas pasokan pangan domestik.

​Perwakilan EAT-Foundation Dr. Fabrice DeClerck menyatakan bahwa laporan edisi terbaru ini secara spesifik memasukkan unsur keadilan sosial sebagai pilar utama di samping faktor kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Target pemenuhan gizi seimbang untuk populasi manusia di atas planet yang sehat hanya bisa dicapai melalui aksi nyata yang terkoordinasi secara internasional. Pendekatan konvensional yang mengabaikan faktor kelestarian alam dalam memproduksi makanan terbukti gagal menyelesaikan masalah kelaparan dan justru memperparah pemanasan global.

​Komisioner EAT-Lancet Prof. dr. Rina Agustina, M.Gizi, PhD mengungkapkan fakta empiris bahwa kualitas diet sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada di bawah standar kelayakan medis. Mayoritas penduduk di semua kelompok usia mengalami kekurangan kalori dan protein secara bersamaan yang berisiko menurunkan produktivitas kerja nasional secara jangka panjang. Kondisi ini diperparah oleh minimnya kesadaran publik untuk mengonsumsi bahan makanan segar kaya zat gizi mikro seperti zat besi dan vitamin A.

​Dominasi Pangan Olahan Pabrikan Dan Ancaman Penyakit Kronis Remaja

​Co-Chair EAT-Lancet Dr. Shakuntala H. Thilsted menegaskan bahwa pergeseran perilaku konsumsi ke arah pangan olahan ultra menjadi pemicu utama melonjaknya angka obesitas global yang kini menjangkau 2 miliar orang dewasa. Pola perubahan ini juga terlihat sangat agresif di Indonesia terutama pada kelompok remaja yang menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi di masa depan. Ketergantungan tinggi pada produk pangan komersial yang miskin nutrisi memicu ledakan kasus penyakit tidak menular pada usia yang semakin muda.

​Data resmi Survei Konsumsi Makanan Individu dan Riskesdas menunjukkan profil konsumsi remaja usia 13 sampai 18 tahun didominasi oleh zat makanan berbahaya. Sebanyak 73.6 persen remaja mengonsumsi makanan ringan produksi pabrikan secara rutin setiap hari sementara 68.1 persen mengonsumsi gorengan berlemak jenuh tinggi. Kebiasaan buruk ini diperparah dengan tingginya penetrasi konsumsi kerupuk sebesar 61.4 persen serta makanan instan dalam kemasan yang mencapai 54.7 persen.

​Rendahnya konsumsi serat juga berada pada angka yang sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan fisik anak muda. Kelompok remaja tercatat hanya mengonsumsi 45.8 gram buah dan 25.2 gram sayur per hari sebuah angka yang sangat jauh dari batas rekomendasi medis dunia. Di sisi lain sebanyak 52.7 persen total populasi nasional justru mengonsumsi natrium berlebih di atas 2000 miligram per hari yang menjadi pemicu utama meroketnya kasus hipertensi dan gangguan kardiovaskular makro.

​Sinergi Lintas Sektor Dan Solusi Finansial Sistem Pangan Berkelanjutan

​Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Yodi Mahendradhata, PhD memandu jalannya sesi diskusi kritis untuk merumuskan ulang arah kebijakan intervensi gizi nasional. Para pemangku kepentingan dituntut untuk meninggalkan pola kerja sektoral yang kaku dan mulai membangun ekosistem pangan terintegrasi yang menghubungkan sektor kesehatan dengan ketahanan iklim. Kebijakan publik yang dilahirkan harus berbasis pada bukti ilmiah yang kuat agar mampu menjawab tantangan riil di lapangan.

​Dalam sesi diskusi panel yang dipimpin oleh Ir. Vita Datau, MPM dari FoodStartup Indonesia dan Indonesian Gastronomy Network para ahli membahas peta jalan implementasi rekomendasi EAT-Lancet di Indonesia. Panelis Ilman Dzikri, MBA dari Sweef Capital menyoroti pentingnya mobilisasi investasi swasta pada sektor agritech dan bisnis pangan lokal yang mengusung prinsip keberlanjutan. Dukungan finansial yang terarah pada pelaku usaha mikro dan menengah akan mempercepat terciptanya rantai pasok pangan yang adil serta efisien.

​Panelis lainnya Ibnu Budiman, MSc dari GAIN, Fachrial Kautsar dari CISDI, dan dr. Melyarna Putri, Sp.GK dari ENHANCE GLOBAL sepakat bahwa edukasi publik mengenai perubahan pola makan harus dibarengi dengan perbaikan aksesibilitas. Masyarakat tidak dapat dipaksa beralih ke menu makanan sehat jika harga komoditas pangan segar lokal tidak terjangkau atau sulit diperoleh di pasar domestik. Regulasi ketat terhadap pemasaran produk makanan tinggi gula garam dan lemak kepada anak-anak juga mendesak untuk segera diterapkan oleh otoritas terkait.

​Potensi Keuntungan Ekonomi Transisi Pangan Nasional

​Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, PhD bersama Roberta Alessandrini, PhD dari PAN International memaparkan analisis dampak ekonomi jika sistem pangan tidak segera diubah. Tanpa adanya mitigasi struktural pembengkakan biaya penanganan penyakit dan kerusakan lingkungan akan menguras anggaran pendapatan dan belanja negara secara signifikan. Kehilangan lahan produktif akibat deforestasi yang mencapai 80 ribu hektar per tahun juga memperkecil peluang Indonesia untuk mencapai kemandirian pangan jangka panjang.

​Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI Prof. dr. Herawati Sudoyo, PhD dalam pemaparan akhir menegaskan bahwa investasi pada sistem pangan berkelanjutan akan menghasilkan keuntungan ekonomi yang sangat besar bagi negara. Transisi menuju pola produksi dan konsumsi yang sesuai dengan rekomendasi ilmiah diproyeksikan mampu memberikan imbal balik positif senilai IDR 8.7 triliun per tahun untuk Indonesia. Langkah nyata ini sekaligus menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi emas yang sehat cerdas dan memiliki daya saing tinggi di tingkat global.

​Informasi lengkap mengenai dokumen hasil riset infografis capaian parameter gizi serta rekaman seluruh sesi pemaparan ilmiah komisi dapat diakses oleh publik secara terbuka melalui kanal komunikasi resmi dan situs web Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Popular Articles