Indramayu, Detik sbs – Di balik geliat pembangunan yang terus berlangsung di Kabupaten Indramayu, masih terdapat warga yang harus bertahan hidup dalam kondisi rumah yang memprihatinkan. Salah satunya adalah Ibu Sarkem, warga Blok Gandok, Desa Panyindangan Kulon, Kecamatan Sindang, yang hingga kini masih menempati rumah sederhana dengan kondisi yang sudah tidak layak huni.
Berdasarkan hasil pantauan di lokasi, rumah yang ditempati Ibu Sarkem terlihat rapuh dan mengalami banyak kerusakan. Sebagian besar dinding rumah terbuat dari triplek dan papan kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
Atap rumah menggunakan lembaran asbes yang kondisinya mulai rusak, sementara sekat antar-ruangan hanya berupa kain yang digantung sebagai pembatas. Kondisi tersebut membuat rumah tidak lagi memenuhi standar keamanan maupun kenyamanan sebagai tempat tinggal.
Kesulitan semakin dirasakan ketika musim penghujan tiba. Atap yang bocor menyebabkan air hujan masuk ke dalam rumah dan menggenangi lantai, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
“Kalau hujan sering bocor, airnya masuk ke dalam rumah. Saya hanya bisa menampung air dan membersihkan setelah hujan reda,” ujar Ibu Sarkem saat ditemui awak media.
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Ibu Sarkem mengaku belum mampu memperbaiki rumahnya secara mandiri. Ia hanya berharap suatu saat rumahnya dapat memperoleh bantuan rehabilitasi agar dirinya bersama keluarga bisa tinggal dengan lebih aman dan nyaman.
Persoalan rumah tidak layak huni memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Indramayu. Melalui Program Bantuan Stimulan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), pemerintah daerah bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Indramayu terus berupaya membantu masyarakat yang membutuhkan.
Program Rutilahu menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi warga yang rumahnya tidak memenuhi standar kesehatan, keselamatan, maupun kelayakan sebagai tempat tinggal.
Namun, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi berbagai tantangan. Jumlah rumah yang membutuhkan bantuan masih jauh lebih banyak dibandingkan kemampuan anggaran yang tersedia setiap tahunnya.
Data menunjukkan, pada tahun 2025 Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan anggaran sekitar Rp25,4 miliar untuk memperbaiki sekitar 1.270 unit rumah dengan nilai bantuan Rp20 juta untuk setiap rumah.
Sementara itu, pada APBD Tahun 2026, alokasi anggaran Rutilahu mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp10 miliar. Penurunan anggaran tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah rumah yang dapat menerima bantuan, sehingga proses penanganan rumah tidak layak huni harus dilakukan secara bertahap berdasarkan skala prioritas.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Indramayu menegaskan bahwa program Rutilahu tetap menjadi salah satu program yang akan terus dijalankan. Pemerintah daerah bersama BAZNAS berkomitmen menghadirkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat kurang mampu sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menegaskan bahwa rumah merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi karena menjadi tempat keluarga menjalani kehidupan dan membangun masa depan.
“Karena rumah bukan hanya tempat berteduh, melainkan tempat keluarga membangun harapan yang baik,” tegas Lucky Hakim pada Jumat /24/07/2026.
Melihat kondisi rumah Ibu Sarkem yang memerlukan penanganan segera, diharapkan perhatian dari pemerintah, pemerintah desa, para dermawan, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR), maupun masyarakat luas dapat hadir untuk membantu mewujudkan hunian yang lebih layak.
Keberadaan Program Rutilahu diharapkan terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga yang benar-benar membutuhkan. Dengan sinergi antara pemerintah, BAZNAS, dunia usaha, dan masyarakat, upaya mengurangi jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Indramayu diharapkan dapat berjalan lebih optimal sehingga setiap warga memiliki kesempatan untuk tinggal di rumah yang aman, sehat, dan bermartabat.
( Maman )

